![]() |
Sejak sebelum ditemukannya teori Abraham Maslow mengenai segitiga
kebutuhan, aku merefleksikan bagaimana kehidupan kala itu. Apakah mereka
benar-benar bahagia atas pencapaian yang diraihnya, ataukah sebaliknya, mereka hidup
dengan baik-baik saja tanpa disetir realitas sosial.
Akan tetapi,
rasanya teori Maslow itu baru saja berusia kurang dari satu abad. Seolah-olah peta
itu baru ditemukan tatkala system sosial memang sedang berjalan
sangat deras. Setiap dari kita menempuh satu kebutuhan ke kebutuhan lain.
Dikatakan,
tangga pertama kebutuhan manusia yakni mengenai fisiologis. Kebutuhan manusia
akan memenuhi isi perut, dan polaritas yang berkaitan dengan bentuk fisik
lainnya. Kemudian naik ke tangga berikutnya, safety need. Manusia
rasanya memang menginginkan keamanan dalam hidupnya, adanya jaminan terhadap
rasa takut yang dirasakannya. Seperti perlindungan, maupun jaminan sosial lainnya.
Love
need. Ya, dalam situasi tertentu. Setelah tangga
fisiologis dan safety need terpenuhi, manusia ingin
merasa dikasihi dan disayangi layaknya manusia itu juga memberikan rasa kasih
dan sayangnya terhadap sesama. So, merasa didengarkan dan tidak sendirian,
merasa ingin disayangi bukan ngemis ya gengs. Tapi, ya memang
begitu alamiah kebutuhan manusia.
Tidak cukup
merasa didengarkan dan dikasih sayangi, manusia juga membutuhkan apresiasi
dari sekitarnya. Hilangnya judgement-judgment, tumbuhnya apresiasi
merupakan kebutuhan manusia juga gengs. So, kadang kita juga harus mengapreasiasi
siapapun itu, apalagi orang-orang terdekat. Bukan karena alay, bukan. Akan tetapi,
memang itulah kebutuhan yang dibutuhkan oleh manusia.
Sederhananya gini,
jika kita ingin diperlakukan seperti itu, maka kita sendirilah yang harus
memulainya. Mulai menghargai hal-hal kecil yang kita raih, mulai mengapresiasi pencapaian-pencapaian
teman, sahabat, orang-orang sekitar dengan penuh ketulusan. Percaya deh, itu
bakal balik juga ke diri kita. Karena, law off attraction itu
nyata!.
Setelah semuanya
terpenuhi, puncak dari kebutuhan manusia dari sudut pandang teori Maslow yakni
kebutuhan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Perkembangan potensi yang diinginkan
manusia bukan karena tamak, akan tetapi memang seperti itulah alamiahnya. Tentu,
peraihan potensi-potensi itu harus didasarkan pada kebaikan. Serta jangan
merugikan orang lain. Bersaing dengan sehat akan sangat terasa nikmatnya. Bahkan
lebih lama. Jadi, tatkala ada manusia yang padahal secara material sudah terlihat
memiliki segalanya, banyak orang-orang yang menyayanginya, yang respect,
tapi ia masih saja menginginkan peluang misalnya relasi, koneksi, tanggung jawab
baru, bukan karena sombong dan tamak. Akan tetapi begitulah alamiah naluri
manusia bekerja.
Tentu, semuanya
harus didasarkan secara positif. Karena itu laiknya dua mata pisau, tergantung
kita menggunakannya.
Maka,
sederhananya begini. Jika kita ingin, perahu kita tetap diikuti oleh crew,
maka kebutuhan-kebutuhan tadi harus kita siapkan di dalam perahu selaku kapten.
Agar supaya, crew tidak kabur dan bahkan rela mati demi berlayar
menggunakan perahu yang kita kemudikan.
Wallohu a’lam bisshowwab
___________________________________________________________________________________
Bila Cakraseners suka dengan tulisan ini, dengan senang hati kami membuka donasi untuk mengembangkan website ini. Klik di sini ya gaes!

Posting Komentar