Sore hari yang sepi dengan suasana sejuk serta alunan irama air di pesawahan yang dihiasi penampakan sapi berlalu lalang mencari sesuap rumput demi mengenyangkan perut, terlihat seorang lelaki berusia seperempat hidup bertubuh kurus dan dihiasi kumis yang tipis sedang asyik-asyiknya memainkan suling seraya peci hitam yang disimpan miring. Gus Wud yang sedari tadi melintas di tepian jalan memerhatikannya dengan khusyu, dan tak lama menghampirinya dengan maksud silaturahim.
Gus Wud : “ Assalamu’alaikum, fan”
Ifan : “ Waalaikumsalam (spontan mencium tangannya Gus Wud dengan ta”dzim). Oala, kirain siapa ini teh. Ngagetin saya aja Gus mah. Ada apa gerangan tumben Gus kesini, biasanya kan sekarang waktunya mengajar di madrasah Gus.
Gus Wud : “Betul fan, hanya saja hari ini saya ingin berkeliling desa terlebih dahulu, bercengkrama dengan warga sekitar, bukankah silaturahim itu memperluas rezeki dan memanjangkan umur, betul kan fan?”.
Ifan : “Ah Gus mah, suka mengetes saya. Gus kan lebih pandai akan hal itu”.
Gus Wud : “Bukan ngetes fan, hanya memastikan”.
Ifan :”Iya Gus iya … “
Gus Wud : “Bagaimana keimananmu, apakah masih ada dalam keraguan?”.
Ifan : “Belum seratus persen Gus, hehehe”.
Dua hari yang lalu, Ifan sedang ditimpa mang-mang akan eksistensi Tuhan. Alasannya sederhana, karena setiap do’a yang dilantunkan belum juga terwujud sesuai keinginan. Maka dari itu ia menemui Gus Wud selaku tokoh agama untuk memantapkan hatinya akan Islam.
Gus Wud : “Fan, fan! … kamu ini. Tapi tidak mengapa, keraguan adalah jalan menuju Iman”.
Ifan : “Iya Gus. Bukankah Gus sendiri bilang bahwa ‘setiap bayi yang dilahirkan itu suci, ibu dan ayahnya yang menentukan apakah dia Islam, Yahudi, atau Nasrani’. Sedangkan saya, ibu dan ayah saja tidak punya, apalagi keluarga. Beruntung sekali saya bisa kenal dengan Gus dan warga lainnya. Meskipun sekarang, keraguan itu muncul kembali”.
Gus Wud : “ Fan, bentuk ijabah do’a itu ada tingkatannya. Bisa jadi Tuhan mengijabah do’a dengan bentuk yang lain, sehat misalnya. Atau kita masih diberi hidup sampai sekarang. Atau nanti do’a itu bisa menjadi pahala di akhirat agar menambah timbangan amal kebaikan kita”.
Ifan : “Tapi Gus, saya butuhnya sekarang”.
Gus Wud : “ Betul fan. Kamu punya kebutuhan, warga sekitar juga punya kebutuhan, apalagi saya. Kita tawakkal saja fan, sembari berikhtiar untuk meraihnya”.
Ifan : “Iya Gus Iya … Tapi, sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak Gus”.
Gus Wud : “Ada Fan”.
Ifan : “ Lalu, dimana adanya Tuhan. Apa bukti adanya Tuhan?”.
Belum sempat Gus Wud menjawab pertanyaan Ifan, beliau ditelpon oleh Bu Nyai agar segera pulang untuk mengajar santri yang sudah berkumpul di rumahnya.
Gus Wud : “MasyaAllah, saya hampir lupa fan. Sekarang itu waktunya mengajar santri. Keasyikan mengobrol denganmu. Gini saja, kita lanjut tanya jawabnya di rumah ya. Supaya lebih enak. Ditunggu ba’da Isya di rumah”.
Ifan : “Baik Gus. Terimakasih undangannya”.
Gus Wud : “Yasudah, saya berangkat dulu. Assalamualaikum”
Ifan : “ Waalaikumsalam, hati-hati Gus”.
Pertemuan singkat itu, mengandung makna yang begitu amat besar bagi Ifan. Secara, sudah lama juga Ifan tidak berkunjung ke rumah Gus Wud sejak beberapa hari yang lalu. Gus Wud yang rutinitasnya mengajar tentu memiliki waktu yang singkat untuk bercengkrama dengan masyarakat. Kalau pun ada, beliau gunakan untuk istirahat tidur siang atau ngopi santai bersama khodimnya di rumah. Sesekali beliau juga menjamu tamu yang berkunjung ke rumahnya dengan penuh ramah tamah.
Waktu maghrib telah lewat, kumandang adzan Isya pun telah tiba. Ifan yang sudah rapi segera bergegas ke surau dekat rumah Gus Wud untuk menegakkan sholat. Meskipun, ia masih mang-mang kepada siapa ia menyembah. Seusai shalat Isya, ia bergegas bertamu ke rumah Gus Wud yang hanya beberapa langkah itu.
Ifan : “Assalamualaikum, Gus …”
Gus Wud : “Waalaikumsalam, silakan duduk di kursi depan. Tunggu sejenak, saya ke dalam dulu sebentar”.
Ifan : “ Baik Gus”.
Ifan pun mematuhi arahan Gus Wud dengan teliti. Sembari melihat-lihat halaman rumah Gus Wud yang dihiasi bunga-bunga indah. Tidak lama kemudian, Gus Wud datang dan melanjutkan pembicaraan tadi.
Gus Wud : “Baik fan, tadi sampai mana”.
Ifan : “Tuhan itu ada atau Tidak Gus?”.
Gus Wud : “Oh iya. Jadi begini fan. Tuhan itu ada fan. Ada keterangan kurang lebih artinya seperti ini. ‘Setiap alam itu berubah, dan setiap yang berubah itu baru, dan yang baru itu butuh pada yang membarukannya, dan yang membarukan, mengadakan, tidak lain lagi kecuali Tuhan semesta alam’. Maka fan, Allah itu Tuhan semesta alam. Dia-lah yang menciptakan bumi beserta isinya termasuk kita. Dan yang memberikan kehidupan kepada kita. Memberi nafas, memberi nikmat udara, nikmat ngopi dan udud. Begitu fan ,,,”
Ifan : “Oh begitu Gus”.
Gus Wud : “Ngomong-ngomong ini yang buatin kopi kemana. Neng-neng! … Bikin kopi teh sudah beres belum ?”.
An : “Sebentar abaaah. Ini sudah selesai tinggal ke depan”.
Terdengar suara dari dalam dengan nada lirih nan syahdu membuat Ifan terkejut dan berpaling pandangan. Seketika, An membawa kopi ke hadapan Ifan yang sedang mengobrol bersama Gus Wud. Sontak, reaksi Ifan sangat berbeda dalam memandang An.
Gus Wud : “Silakan diminum kopinya fan…”
Tidak ada tanda-tanda jawaban dari Ifan, seketika Gus Wud bertanya kepadanya yang sedang bengong menatap An.
Gus Wud : “Fan … Fan … hey kamu kenapa ? Ngopi fan”.
Ifan : “Semenjak Gus bilang bahwa bukti adanya Tuhan ialah ada ciptaan-Nya. Maka disaat aku menatap keanggunan putrimu, keindahan bola mata An, aku menekadkan bahwa Tuhan itu ada Gus”.

Posting Komentar